rasa ini

dari dalam setiap rasa,
suka ku, duka ku, pahit ku, manis ku,
akan aku fikirkan dari mana datangnya,
dan kenapa rasa itu muncul,
pada saat dan detik ketika aku mulai sedar,
walau rasa duka mahupun pahit itu menjenguk,
walau hati dan perasaan ku retak bertebaran di
lantai pemikiran manusia,
kerna tanpa setiap rasa itu,
aku tak akan pernah hargai saat suka
tanpa hadirnya saat duka
aku tak akan pernah ingati saat manis
tanpa hadirnya saat pahit,
setiap rasa itu memerlukan
setiap satu yang lain,
bagai pemilik rasa
dan pencipta-Nya.

rasa yang tak pernah hilang

ku alih pandangan rindu
jauhjauh ke seberang sana
dalam diam ia kembali
merasuk tubuh meresap sendi
menyerpa aku angkuh sekali


kemana harus aku bawakan
rasa yang tak pernah hilang
tinggalkan di loggokan selerak
atau perlu saja ku junjung sorak
kerna tak mampu ku usung
dua hati yang belum pernah bohong
soal rasa yang ditanam sejak lahir
rasa yang menyelamat jiwa
dari sangkakala dunia.



Gila!

dunia sudah cukup sempurna,
buat makhluk yang punya pancaindera,
setiap satunya diguna bukan dipersia,
yang bersyukur setiap satunya ada.

ah! biarkan saja yang tuli buta,
tak mendengar akan telinga,
tak memerhati akan mata,
interperasi bagai orang gila,
punyai akal tapi letaknya dipinggul saja,
punyai ilmu tapi bergurukan media juga.

orang gila yang gila,
lagi aku hadap, dari mereka,
gila! 

Impi

dalam dakapan impian,
letaknya secebis harapan,
setiap makhluk punya satu,
walau jauh pandangan mampu,
nada suara bersatu pecah,
bulatan kasih terputus lemah.

aku dan bayanganku,
tak henti malah mengejar,
biar kau sedar.

Bingung

suatu malam ku terbangun
igauan tentang kamu aku gerun
bingung kepala di umbun
darah mengalir naik turun
mengingatkan dosa ku yang timbun

lekas ku balut diri
dengan zikir dan munajat hati,
beku air mata cair di pipi,
sepenuh jiwa aku perlu kembali,
pada Ilahi.

Menanti

di saat purnama mulai menerangi,
minda ku sering melayang pergi,
menembusi awan di langit tinggi,
terbayang akan mu yang menanti,
bagiku kau sempurna dari setiap sisi,
yang menerima ku bersama janji,
yang membuat ku terus berani.

teruskan melabur doa pada Ilahi,
agar cita lama kita kecapi, pasti.

Indah

aku dan fikiran ku,
melayang jauh ikutkan 
alunan manja angin,
yang tak pernah hampa,
atau hilang percaya,
akan sesatnya hati,
atau fikiranku mati,
walau dalam suka ku serah,
dalam duka ku pasrah,
yang dulunya susah,
kini kian mudah,
indah.